Tulisan Terbaru

PENGALAMAN PERTAMA



Saya sudah lama berjanji untuk berkunjung dan menjumpai sanak saudara di kampung kelahiran saya, tepatnya Kecamatan Sipahutar Tapanuli Utara. Tetapi rencana ini selalu saja tertunda karena kesibukan kerja dan berbagai kesibukan lainnya.

Akhirnya dengan satu tekad dan perencanaan yang matang, tanggal 19 Juli 2008 yang lalu adalah hari yang tepat untuk menepati janji pulang kampung, yang sudah tiga tahun tidak pernah saya kunjungi. Saya beserta saudara perempuan dan dua orang saudara dekat mempersiapkan diri melakukan perjalanan yang berjarak sekitar 370 km dan memakan waktu sekitar 6-7 jam dari kota Medan tempat tinggal saya saat ini. Pada awalnya saya bingung mau pakai mobil apa. Dengan kondisi jalan ke sana yang sangat berat dan penuh lubang dan Lumpur, ditambah dengan hari hujan saat ini, tidak memungkinkan mobil saya yang ada saat ini untuk melakukan perjalanan tersebut.

Tiba- tiba saya teringat ada kakak saya yang juga satu kota dengan saya, memiliki sebuah mobil yang sangat cocok untuk melakukan perjalanan ini. Saya tahu mobilnya bisa memuat banyak barang di belakang, berbahan bakar solar, dan penampilannya yang OKE, bercat biru dan perak.

Singkat cerita, kami berangkat dengan mobil tersebut. Sebelum meluncur kami memuat makanan, perlengkapan, oleh-oleh, dan barang-barang lainnya di bagian belakang, karena mobil tersebut memiliki jok belakang yang bisa dilipat sehingga bisa memuat banyak barang.

Dengan rasa suka cita yang akan segera bertemu saudara di kampung, kami meluncur dari kota Medan dengan terlebih dahulu mengisi BBM Solar hingga fulltank. Pengalaman pertama yang saya rasakan disaat mengendarai mobil, stirnya ringan, mobilnya kokoh dan suspensinya lembut. Saya merasa aman dan nyaman menyetir sendiri. Setelah meluncur seperempat perjalanan, saya mengamati jarum penunjuk BBM. Kog hanya sedikit bergeser ke kiri, kog tidak kurang-kurang? Apa ada sesuatu yang salah dengan jarum penunjuknya? Kami terus melaju dan melewati berbagai kota, Lubuk Pakam – Perbaungan – Sei Rampah - Tebing - Siantar, dan kami tiba di kota Turis Parapat untuk istirahat sejenak dan makan siang. Kami menyempatkan berfoto - foto sambil menikmati alam Danau Toba yang Indah, dingin dan sejuk.

Setelah istirahat sekitar 45 menit di kota Parapat, kami melanjutkan perjalanan. Kami benar – benar menikmati setiap detiknya, di dukung kondisi mobil yang benar-benar great. Dengan melaju terus, kami melewati kota-kota Parapat – Laguboti – Porsea – Balige – Siborong-Borong sambil menikmati dinginnya udara di sepanjang kota, ditambah dengan hamparan sawah yang terbentang indah di kiri – kanan jalan, dan deretan gunung yang masih hijau. Segalanya tampak indah dan damai.

Mata saya sekali sekali melirik jarum penunjuk BBM, masih condong ke kanan artinya konsumsi Solarnya hanya berkurang sedikit. Saya mulai sadar, berarti mobil ini irit bahan bakar. Selain irit, mobil juga berbahan bakar Solar. Sudah pasti harganya lebih murah dari Premium. Saya menyetir dengan kecepatan 80 – 100 km/jam. Si jarum BBM tidak saya lirik- lirik lagi, tapi melaju dan melaju terus.

Tiba di sebuah kota namanya Siborong-Borong, perjalanan ke kampung dari kota ini berjarak sekitar 23 km, dan kami akan melewati jalan yang rusak parah. Tetapi dengan satu keyakinan bahwa mobil yang saya kendarai akan mampu mengatasi hal tersebut, tanpa ragu saya belok kiri dan mulai memasuki jalan ke kampung yang penuh lobang hingga kedalaman 20 – 25 cm, berliku dan berlumpur. Saya menyetir dengan hati - hati(maklum mobil pinjaman).

Setapak demi setapak saya telusuri jalan ke kampung, jika jumpa lubang besar, mobil saya perlambat, tukar gigi, mantapkan posisi roda, dan drummmmm.. mobil melewati setiap rintangan dengan mantap. Demikian seterusnya, dan ….akhirnya tidak terasa kami sampai di tanah kelahiran saya, dan berjumpa dengan sanak saudara. Rasa haru bercampur sukacita menyatu. Satu hal paling membahagiakan, saat saya bertemu dengan teman satu sekolah dan mantan guru saya dulu.

Kami menurunkan oleh – oleh yang kami bawa, saya memperhatikan jarum penunjuk BBM, persis tegak lurus seperti jarum pada jam 12.00 Wib. Artinya BBM yang kami habiskan hanya separuh, berarti hanya menghabiskan solar sekitar 25 liter dengan jarak tempuh 370 Km, atau setara dengan 1 liter menempuh jarak sekitar 14 - 15 km.

Selama berada di kampung saya menyempatkan diri ziarah ke pusara ayah dan bunda tercinta, dan berkeliling melihat kampung dan mengunjungi bekas sekolah saya dulu. Saya terharu dan bangga mengingat segalanya semasa kecil di sana.

Hari senin tanggal 21 Juli, kami kembali ke Medan, dengan membawa oleh-oleh 5 kaleng Beras, Pisang, Nenas, Ubi, dll. Semuanya kami muat di belakang mobil. Muatan mobil tampak berat, tetapi saya yakin tidak akan bermasalah walau kami akan melewati jalan berlubang, berliku, dan berlumpur. Dengan mantap saya menyetir, dan tidak terasa kami telah melewati medan berat tersebut, dan langsung tancap gas menuju kota Medan.

Ketika berangkat dari Kampung, jarum penunjuk BBM masih tegak lurus. Sampai di kota Siantar, kami isi tangki penuh, walau saat itu saya yakin akan sampai ke Medan tanpa isi Solar lagi. Setapak demi setapak, saya melewati kota Parapat – Siantar - Tebing Tinggi - Sei Rampah – Perbaungan - Lubuk Pakam dan masuk Jalan Tol Tanjung Morawa. Akhirnya kami sampai di kota Medan.

Besoknya, mobil yang saya kagumi ini langsung saya kembalikan ke kakak saya. Saya menceritakan kalau perjalanan kami lancar dan tidak kurang suatu apapun. Sesaat setelah mau pamit pulang, saya beritahu kalau mobilnya sedikit tergores kena kayu sewaktu mobil saya bawa berkeliling ke dusun-dusun di kampung.
Untungnya dia tidak marah padahal sebelumnya saya sudah bingung mau bilang apa ( takut tidak di kasih pinjam lagi) He..heh..akhirnya semuanya beres, walau mobil tergores kecil di bumper depan…
Saya mengutarakan hasrat untuk membeli mobilnya dengan mencicil. Tetapi dia tidak mau. Akhirnya saya pamit, sesampai di rumah, saya langsung mengambil buku tabungan dan menghitung uang saya, ternyata belum cukup untuk membeli Mobil Idamanku TOYOTA KIJANG KRISTA GRAND LF82 LONG DIESEL, TAHUN 2002, sebuah mobil yang berpenampilan mantap dan kren, muatan yang banyak, berbahan bakar Solar, dengan konsumsi BBM yang irit, serta menjadikan pengalaman saya yang pertama menyetir sendiri pulang kampung .

HORAS KIJANG

1 comment:

hamidin krazan said...

jika dalam menuturkan kendala alam, saat melintas di jalan rusak, tantangan maut diceritakan secara lebih dramatik, tentu peringkatnya lebih atas lagi. Seperti, dari rumah makan A ke arah utara ada tanjakan dengan kemiringan 47 derajat, mana jalans empit, kanan jalan penuh semak dan tebing, kiri jalan jurang berbatu cada. ketika ancang-ancang nanjak, dari arah berlawanan ada truk pengankut sayuran, ketika hendak tancap gas di depan lubang nganga mengahdang.... dan sebagainya, pastia syik deec.

Blog Archive