Tulisan Terbaru

Showing posts with label usaha di kota medan. Show all posts
Showing posts with label usaha di kota medan. Show all posts

"Cuci Mata"



Istilah “cuci mata” tentunya bukan hal yang asing lagi bagi kita. Istilah ini sering diungkapkan seseorang yang ingin melihat yang indah-indah agar ia terhibur. Bagi orang Medan, istilah ini sering diucapkan ketika seseorang ingin  jalan-jalan ke Mall atau Plaza tanpa bermaksud shoping barang tertentu. Intinya, ia ingin menghabiskan waktu seharian di mall atau plaza untuk menghibur diri  akibat suasana hati yang BeTe, galau, suntuk, bosan atau sesuatu yang membuat hati “gundah gulana.”

Saat cuci mata, seseorang berjalan-jalan sambil berkeliling menyisir toko-toko sambil melihat-lihat aneka produk di mall. Kadang ia bertanya ke si penjaga yang biasa disebut SPG (Sales Promotion Girl) bahkan mencoba berbagai produk. Namun karena maksud dan tujuan berkunjung ke mall adalah cuci mata, maka keseriusan untuk membeli pun dinomorduakan. Ada saja alasan yang diberi ke SPG agar produk yang dicoba tadi tidak jadi.

Dalam dunia cuci mata, bukan hanya produk yang dijual saja yang menjadi  objek perhatian. Tingkah laku dan gaya para pengunjung juga menjadi perhatian. Ada saja orang-orang yang berdiri dekat eskalator sambil melihat pengunjung naik turun di eskalator. Bukan hanya itu, hiasan-hiasan di mall juga menjadi objek cuci mata. Bahkan juga kadang-kadang seseorang yang cuci mata menyempatkan bertanya dengan SPG padahal tidak berkaitan dengan produk yang dijual. Hanya sebatas itu. Setelah ditanya ia kembali berkeliling dan melihat-lihat kesana kemari. Seseorang yang cuci mata juga datang ke mall hanya duduk menikmati kopi atau teh di tempat-tempat yang banyak tersedia di dalam mall.


Begitulah sekilas cuci mata. Apapun itu dan dimana pun itu,  yang penting hati kita bisa terhibur sesuai dengan definisi “cuci mata”  bisa bersenang-senang dengan melihat sesuatu yang indah.

PAK TUA BERTAHAN DI MEDAN

Dengan mengenakan topi kumal kesayangannya, Pak Tua mengayuh sepeda yang dilengkapi dengan peralatan Tempel Ban menuju ke sebuah tempat yang menjadi tempat nongkrong para tukang becak di sekitar Pusat Pasar Simpang Limun Medan.

Di sanalah Pak Tua bekerja sebagai Tukang Tempel Ban. Di tempat pemberhentian para abang becak itu dia berharap dapat banyak pelanggan. Setiap hari ia menempel ban dengan upah rata-rata tiga ribu rupiah untuk satu ban. Tidak ada target khusus atau target minimum yang ia peroleh setiap hari. Kadang-kadang ia menempel 10 ban per hari dan bahkan tidak ada ban bocor untuk ditempel pada hari itu.

Umurnya sudah hampir 60 tahun. Dia berasal dari sebuah desa di Nusa Tenggara Timur. Di Medan ia hidup seorang diri tanpa istri, anak dan sanak saudara. Dulunya ia adalah bekas TKI ilegal ke Malaysia sekitar tahun 90-an. Tetapi ketika itu mereka diusir dan akhirnya Pak Tua sampai ke Pelabuhan di Tanjung Balai. Ia sampai ke Medan karena diajak seseorang lalu mencari nafkah dengan mengayuh becak. Becak itu adalah milik orang lain yang disewakan. Pak Tua hanya memberi setoran setiap hari.

Awalnya dia menggeluti tempel ban karena becak yang dulu ia pakai sudah rusak berat dan tidak mungkin lagi untuk diperbaiki. Kini lima belas tahun sudah Pak Tua menggeluti pekerjaan ini. Para abang becak sudah sangat kenal dan akrab dengannya.

Menurut Pak Tua, para langganannya sering memberi upah melebihi tarif. Tetapi kadang-kadang hanya dengan sebatang rokok.Walau demikian Pak Tua tetap merasa senang dan dengan hati yang gembira selalu memberi layanan terbaik untuk pelanggannya. Pak Tua semakin "terkenal" karena ia juga jagonya mengkusuk kaki yang terkilir.

Dia tidak berharap banyak dari pekerjaan ini. Dia tidak ingin menjadi seorang Toke Ban atau memiliki rumah yang besar. Dia hanya berharap bisa mengumpul biaya untuk ongkos pulang ke tanah kelahirannya di NTT. Dia sudah sangat ingin berjumpa dengan anak dan istrinya yang sudah 20 tahun ia tinggalkan.

Tetapi harapan demi harapan, impian itu tak kunjung datang. Bahkan saat ini beliau sudah melupakannya. Dia sudah lebih bahagia bercanda gurau dengan para abang becak yang menjadi teman setianya setiap hari.

image: http://kfk.kompas.com/system/files/imagecache

Blog Archive