Tulisan Terbaru

"JANGAN MENYERAH TULANG...."

Ketika bangun di pagi hari kembali kita disibukkan berbagai aktivitas. Ke tempat kerja, ke kampus, ke sekolah, atau just stay at home. Tidak jarang kita dihadapakan ke berbagai hal sulit. Persoalan pribadi, tugas-tugas sekolah dan kuliah, belum lagi amarah si Bos yang selalu menuntut pekerjaan yang harus benar-benar sempurna, apalagi kalau tiba-tiba Blog kesayangan amburadul dan acak karena ganti template baru, padahal mau ikut diperlombakan pada Djarum Black blog competition. Rasanya kesal, stress, keringat dingin, marah bahkan sampe demam.
Dalam menyikapi persoalan seperti ini, apakah mesti menyerah atau lanjut terus?
Menyerah sering terjadi dalam aktivitas keseharian kita. Entah dimana dan entah kapan pasti kita pernah menyerah. Ketika seseorang tidak mampu lagi untuk mengatasi sebuah masalah walau telah menempuh 8 penjuru mata angin atau telah menempuh banyak jalan ke Roma, kata terakhir yang terucap adalah menyerah. Hal yang wajar!! Yang tidak wajar adalah ketika seseorang sudah berada ditengah arena atau bahkan belum memasuki sebuah arena sudah langsung merasa tidak mampu. Apalagi saat membaca syarat lomba ide cemerlang di Blackinnovationawards, langsung mundur
Akhirnya? Ada yang kalah, ada yang gak lulus ujian, ada yang gak lolos wawancara, bahkan ada yang gak jadi buat Blog karena sudah merasa tak mampu membuat postingan atau menghias blog.
Nah bagi sobat-sobat kalau selama ini merasa gampang menyerah, segera berobah 180 derajat menjadi sesorang yang sulit menyerah atau bahkan tidak akan pernah menyerah, dengan syarat : sebelum menempuh 8 penjuru mata angin dan menempuh banyak jalan ke Roma. Tetapi kalau sudah ditempuh dan tetap tidak berhasil, ya... ada sebuah alasan untuk menyerah.
“Jangan menyerah Tulang” (Tulang=Paman). Anda mungkin pernah dengar kalimat ini. Kalimat ini pertama sekali terdengar tahun 1965 tanggal 30 September. Seorang pemuda masih sempat meneriakkan kalimat ini kepada Tulang(Paman)nya yang saat itu sedang berjuang menghadapi maut.
Sekali lagi, “Jangan Menyerah Tulang”

Best regards,

Piter silitonga

Blog Archive